Maqashid Asy-Syariah dalam Sistem Keuangan Syariah

Abdul Wahab Khalaf, menyatakan bahwa keberadaan Maqashid Asy-Syariah sangatlah penting, karena dapat dimanfaatkan dalam hal memahami teks Al-Qur'an dan Hadis, juga dapat memberikan solusi dalam menyimpulkan beberapa dalil yang saling bertentangan, terkhusus lagi untuk menetapkan hukum terhadap kasus atau permasalahan yang baru terjadi, yang hukumnya itu tidak didapati dalam Al-Qur'an dan Hadis secara tersurat.

Maqashid Asy-Syariah dalam Sistem Keuangan Syariah

Karena itu, penerapan Maqashid Asy-Syariah dalam sistem ekonomi dan keuangan syariah, dan kaitannya dengan praktik keuangan syariah yang sering berbeda antara negara satu dengan negara lainnya, menjadi sangat penting.

Pada dasarnya, sistem operasional keuangan dan perbankan syariah lebih mengacu pada fikih klasik, dan ini dapat dilihat dengan jelas dari praktik perbankan syariah yang ada saat ini, yaitu dengan penggunaan berbagai akad.

Sementara itu, fikih merupakan hasil dari pemikiran terbaik para ulama, dan sudah pasti setiap kesimpulan hukum yang ditetapkan selalu berkaitan dengan masalah yang terjadi pada masa hidupnya, bukan pada permasalahan yang belum terjadi atau diketahui sama sekali.

Karena perbedaan masa, maka penggunaan fikih klasik akan lebih baik dikombinasikan dengan fikih modern, dan dengan tetap meninjau dari segi Maqashid Asy-Syariah, agar keuangan dan perbankan Syariah tidak terkesan ketinggalan zaman, di samping fokus utamanya akan kepatuhan Syariah.

Secara sekilas, Maqashid Asy-Syariah merupakan acuan yang sangat cocok dalam hal pengembangan sistem, mekanisme atau praktik, dan produk perbankan Syariah, serta berbagai lembaga keuangan syariah lainnya, yang beroperasi di zaman modern ini.

Juga, Maqashid Asy-Syariah merupakan kata lain dari upaya mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Beberapa tinjauan produk dan operasional perbankan syariah, dari segi Maqashid Asy-Syariah, yaitu:
  • Terjaganya kualitas keagamaan. Ini tercermin dari penggunaan Al-Qur'an, Hadis, dan beberapa sumber hukum lainnya sebagai pedoman operasional bank syariah. Dan juga diperkuat dengan keberadaan DPS (Dewan Pengawas Syariah) yang bertugas untuk mengawasi dan mengarahkan praktik bank syariah agar selalu sesuai dengan aturan Islam.
  • Terjaganya jiwa. Dengan menggunakan akad-akad yang diizinkan dalam Islam, maka bank dan nasabah akan saling menghargai, dan berusaha untuk memenuhi tanggung jawabnya. Sehingga, perselisihan akan sangat jarang terjadi.
  • Terjaganya akal pikiran. Hal ini dikarenakan kedua belah pihak yang melakukan akad harus saling menghormati atau tidak menzalimi satu sama lain, serta segala informasi yang berkaitan dengan transaksi yang dilakukan harus diungkapkan secara benar, tidak boleh ada penipuan.
  • Terjaganya harta. Pengelolaan dana nasabah dengan cara yang tepat dan hati-hati oleh bank syariah akan membuat dana tersebut menjadi aman, sehingga kemungkinan bagi hasil di antara nasabah dan bank selalu ada. Dan yang paling penting yaitu bank harus selalu memastikan bahwa dana nasabah diinvestasikan pada proyek-proyek yang sesuai Syariah, sehingga tak hanya kuantitas harta saja yang terjaga, tapi juga kehalalan dan kesuciannya.
  • Terjaganya keturunan. Tentu saja, kalau semua poin di atas sudah tercapai, maka dengan sendirinya akan membentuk keturunan yang mulia, karena setiap hal yang dikonsumsi oleh keluarga nasabah atau pun pihak bank merupakan hasil dari kerjasama yang halal.
Kelima tujuan pokok Syariah di atas, merupakan inti dari praktik perbankan dan lembaga keuangan syariah lainnya, setiap bank yang gagal untuk mengaitkan operasionalnya dengan Maqashid Asy-Syariah, maka akan didapati beberapa ketidaksesuaian atau kejanggalannya dalam menerapkan prinsip Syariah.

0 Response to "Maqashid Asy-Syariah dalam Sistem Keuangan Syariah"

Post a Comment

Selamat berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel