Sumber-sumber Perikatan dalam Hukum Islam

Sumber-sumber Perikatan dalam Hukum Islam

Ahli syariah, khususnya para ulama Fikih, mengenal istilah "sabab".

Contohnya saja, akad, yang diistilahkan dengan sabab (sebab), dikarenakan akad yang sah dapat memberikan pengaruh hukum, seperti perpindahan hak milik akibat adanya jual beli.

Sehingga dapat dipahami bahwa, penggunaan istilah sabab ini untuk mengungkapkan atau menunjukkan sumber dari setiap perikatan yang dilakukan.

Syekh Mustafa Az-Zarqa, menyebutkan setidaknya lima macam sumber perikatan (masadir al-iltizam) yang ada dalam hukum Islam:
  1. Akad (al-'aqd).
  2. Kehendak sepihak (al-iradah al-munfaridah).
  3. Perbuatan merugikan (al-fi'l adh-dharr).
  4. Perbuatan bermanfaat (al-fi'l al-nafi').
  5. Syara'.
Dalam hukum Islam, akan menjadi sumber terpenting dalam sebuah perikatan.

Dengan demikian, perlu adanya kajian khusus terkait dengan hal ini.

Sementara itu, kehendak sepihak (al-iradah al-munfaridah), dapat memberikan efek hukum yang sangat beragam dan luas.

Sehingga, dalam hukum Islam, terdapat beberapa perbuatan hukum yang mampu menimbulkan pengaruh hukum, di antaranya:
  1. Kehendak sepihak yang tidak mengharuskan adanya kesamaan dengan kehendak pihak lainnya. Misalnya: (i) perikatan (al-iltizam) dalam definisi klasik, seperti satu pihak menyatakan untuk memberikan sesuatu kepada pihak lain. (ii) janji sepihak, seperti orang yang mewajibkan bagi dirinya untuk mengerjakan sesuatu di masa yang akan datang. Baik itu berupa janji untuk menjual sesuatu kepada orang lain (jual beli) atau dapat juga dalam bentuk pemberian hadiah atas capaian orang lain (ju'alah atau sayembara). (iii) nazar, orang yang ingin atau berniat untuk melakukan hal-hal tertentu di masa depan, yang berhubungan dengan pengabdian kepada Allah, seperti seseorang ingin memberikan santunan kepada anak yatim bila dirinya lulus ujian atau mendapatkan ranking 1 di kelas.
  2. Perbuatan yang masih diperselisihkan oleh para ahli hukum Islam terkait kedudukannya, atau dalam kata lain diharuskan akan adanya ijab qabul dari kedua belah pihak atau hanya berupa tindakan sepihak saja. Tindakan ini seperti hibah (pemberian), 'ariyah (pinjam pakai), kafalah (jaminan), dan qardh (akad pinjaman). Khusus hibah dan 'ariyah, pandangan hukum Islam bahwa kedua tindakan tersebut merupakan hal yang cuma-cuma, yang tidak diharuskan akan adanya qabul dari pihak penerima. Ini, tentunya merupakan pandangan mayoritas dari para ulama. Sementara itu, kafalah dan qardh, yang sebelumnya berupa perbuatan cuma-cuma, menjadi tindakan yang memerlukan timbal balik terhadap beban (kewajiban), sehingga ijab qabul menjadi sebuah keharusan atau pentingnya kehendak dari kedua belah pihak.

0 Response to "Sumber-sumber Perikatan dalam Hukum Islam"

Post a Comment

Selamat berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel