Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tinjauan Sejarah: Kebijakan Moneter Rasulullah

Tinjauan Sejarah: Kebijakan Moneter Rasulullah

Kondisi perekonomian Jazirah Arab pada masa Rasulullah lebih mengarah pada perdagangan, bukan aktivitas perekonomian yang memanfaatkan sumber daya alam.

Sehingga, minyak bumi belum ditemukan dan beberapa sumber daya lainnya masih sangat terbatas.

Sementara itu, lalu lintas perdagangan terbagi kepada beberapa bagian yaitu:
  • Antara Romawi dan India disebut sebagai jalur dagang selatan.
  • Romawi dan Persia sebagai jalur dagang utara.
  • Syam dan Yaman sebagai jalur dagang utara selatan.
Meskipun banyak bidang yang belum dimanfaatkan secara optimal, perekonomian Arab pada zaman Rasulullah, bukanlah jenis perekonomian yang terbelakang (yang hanya mengenal istilah barter), tapi jauh lebih baik dan modern dari itu.

Misalnya saja, terdapat beberapa konsep ekonomi modern yang sudah dipraktikkan pada masa itu, antara lain:
  • Valuta asing dari Persia dan Romawi, yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Arab, bahkan yang menjadi alat bayar resminya yaitu dinar dan dirham.
  • Sistem devisa bebas ditetapkan, sehingga tidak adanya hambatan sedikit pun dalam hal mengimpor dinar dan dirham.
  • Transaksi kredit (tidak secara tunai) telah diterima secara luas oleh para pedagang.
  • Cek dan Promissory Note (surat promes) sudah umum digunakan, seperti halnya Umar bin Khattab yang menggunakannya pada saat mengimpor barang-barang baru dari Mesir ke Madinah.
  • Instrumen factoring (anjak piutang) sudah dikenal sebagai Hiwalah, dan sudah pasti bebas dari unsur riba.
Saat itu, jika terjadinya peningkatan permintaan terhadap uang, maka dinar dan dirham akan diimpor.

Sedangkan, bila permintaan terhadap uang menurun, maka barang atau komoditas yang akan diimpor.

Nilai emas dan perak yang terdapat dalam dinar dan dirham, tentunya, setara dengan nilai nominalnya, dan hal inilah yang dapat membuat penawaran uang menjadi sangat elastis.

Setiap adanya kelebihan penawaran uang, langsung dapat dikonversi menjadi berbagai jenis perhiasan, sehingga dapat membuat permintaan dan penawaran uang stabil.

Tidak mengenal istilah permintaan uang untuk spekulasi, yang ada yaitu permintaan uang untuk keperluan transaksi dan berjaga-jaga.

Transaksi seperti Talaqqi Rukban (memborong barang yang masuk dari luar dengan harga murah atas ketidaktahuan penjual akan harga pasar yang sebenarnya, atau dalam kata lain penjual yang datang dari desa belum sampai ke pasar yang ada di kota) tidak dibenarkan sama sekali, ini bertujuan untuk mencegah distorsi harga agar tidak mengarah pada spekulasi.

Koin dinar dan dirham pada masa itu, belum dicetak atau dikeluarkan sendiri oleh negara.

Penawaran uang dilakukan dengan cara mempercepat peredaran uang dan juga pembangunan infrastruktur sektor riil.

Faktor-faktor yang dapat mempercepat perputaran uang di antaranya:
  • Kelebihan likuiditas.
  • Larangan penimbunan.
  • Larangan peminjaman berbunga.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa kebijakan moneter yang diterapkan Rasulullah lebih berhubungan dengan sektor riil, dan nilai mata uang juga sangat stabil, serta mengarah pada pertumbuhan dan stabilitas ekonomi yang sangat tinggi.

Post a Comment for "Tinjauan Sejarah: Kebijakan Moneter Rasulullah"