Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Transaksi Valuta Asing (Al-Sharf) dalam Kaidah Hukum Islam

Transaksi Valuta Asing (Al-Sharf) dalam Kaidah Hukum Islam

Pada dasarnya, transaksi valuta asing (al-sharf) dibenarkan atau diizinkan dalam ajaran Islam.

Berkaitan dengan prinsip syariahnya, transaksi valuta asing mengacu pada pertukaran antara emas dan perak, atau yang diistilahkan dalam terminologi fikih sebagai al-sharf, yang mana keabsahan dalam operasionalnya itu disepakati oleh para ulama.

Akan tetapi, ada beberapa aturan penting yang telah ditetapkan oleh para ulama, yang sehingga al-sharf itu dapat dikatakan sesuai syariah, yaitu harus didasarkan pada kerelaan dari kedua belah pihak yang bertransaksi dan transaksinya itu harus secara tunai, juga tidak dibenarkan akan adanya perbedaan terhadap pertukaran barang yang sama atau sejenis, seperti pertukaran antara emas dengan emas dan pertukaran antara perak dengan perak (selisih antara pertukaran barang sejenis merupakan riba al-fadhl, yang sama sekali tidak diinginkan dalam Islam).

Beda halnya dengan pertukaran barang yang tidak sejenis, misalnya pertukaran antara emas dengan perak atau antara rupiah dengan dolar, ini tentu saja dapat dipertukarkan sesuai dengan harga pasar atau pun harga yang timbul dari kesepakatan kedua belah pihak, dengan syarat harus secara tunai, agar tidak masuk dalam kategori riba an-nasiah.

Ketentuan Terkait Kebolehan Transaksi Al-Sharf


Terdapat beberapa ketentuan penting dalam fatwa No. 28/DSN-MUI/III/2002 terkait dengan kebolehan transaksi al-sharf, yaitu:
  • Tidak mengarah pada kegiatan spekulasi.
  • Transaksi yang dilakukan memang benar-benar dibutuhkan atau untuk keperluan berjaga-jaga.
  • Jika pertukaran terhadap mata uang sejenis, maka nilainya harus sama dan tidak boleh adanya penundaan penyerahan dari salah satu pihak.
  • Untuk mata uang yang berbeda jenis, harus dipertukarkan secara tunai dan dengan nilai tukar atau kurs yang berlaku pada saat itu.

Jenis-jenis Valuta Asing dan Hukumnya


Sementara itu, jenis-jenis valuta asing dan hukumnya, yang terdapat dalam fatwa yang sama, antara lain:
  • Transaksi Spot, pembelian dan penjualan valas untuk penyerahan yang tidak ditunda atau dalam kata lain dilakukan pada saat itu juga, dan bisa jadi penyelesaiannya paling lambat dua hari. Hukumnya boleh, karena dianggap sebagai transaksi tunai, sementara untuk jangka waktu dua hari tersebut, dianggap sebagai proses penyelesaian yang sama sekali tidak dapat dihindari dan juga merupakan transaksi internasional.
  • Transaksi Forward, pembelian dan penjualan valuta asing dengan penetapan nilainya pada saat ini dan akan diberlakukan untuk masa yang akan datang (2 hari atau 1 tahun kemudian). Hukumnya yaitu haram, ini dikarenakan harga yang ditetapkan tersebut merupakan harga yang diperjanjikan, sementara itu, harga pada saat penyerahan belum tentu sama dengan harga yang telah ditetapkan sebelumnya, beda halnya kalau dilakukan dalam wujud forward agreement untuk keperluan mendesak atau tidak dapat dihindari.
  • Transaksi Swap, penjualan dan pembelian valuta asing (valas) dengan kombinasi antara harga spot dan harga forward. Hukumnya adalah haram, karena terdapat unsur maysir (spekulasi) di dalamnya.
  • Transaksi Option, perjanjian untuk mendapatkan hak (dalam rangka membeli atau menjual) yang tidak mesti dilakukan atas sejumlah unit valas pada jangka waktu dan harga atau pun tanggal jatuh tempo tertentu. Ini juga diharamkan, karena mengandung unsur maysir (spekulasi).
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa, jenis valas yang sah yaitu transaksi spot, sementara transaksi forward, swap, dan option, diharamkan.

Dengan menetapkan transaksi spot sebagai jenis valas yang dibenarkan, secara otomatis akan dapat menghindari unsur gharar, yang mana gharar ini seringkali terjadi untuk transaksi yang tidak tunai atau berjangka.

Sementara itu, untuk objek akad yang berbentuk barang, selain harus tunai, kualitas dan kuantitasnya juga harus sama, sehingga harus dilakukan secara bersamaan dalam jual beli valas.

Secara sepintas, transaksi valuta asing (valas) ini tidak jauh berbeda dengan transaksi pada umumnya, di mana barang yang belum dikuasai atau dimiliki secara sah, tidak dapat dipertukarkan.

2 comments for "Transaksi Valuta Asing (Al-Sharf) dalam Kaidah Hukum Islam"