Wadiah di Kalangan Ulama Fikih

Wadiah di Kalangan Ulama Fikih

Ulama mazhab Hanafi, mengartikan Wadiah sebagai tindakan pelimpahan harta dari satu orang kepada orang lain, agar harta yang dilimpahkan/dititipkan dapat dijaga dengan baik, melalui ungkapan atau pernyataan yang jelas, tindakan, atau bahkan isyarat untuk menggambarkan kerelaan kedua belah pihak, khususnya penerima titipan yang menunjukkan kerelaannya untuk merawat barang sesuai amanah.

Misalnya, Andi berkata kepada Meri: "Saya titipkan laptop saya kepada anda", kemudian Meri menjawab "saya terima titipannya" atau "hanya diam saja sebagai tanda setuju", maka pernyataan yang seperti ini dianggap benar dan akad Wadiah dapat memberikan pengaruh hukum (Zuhaili, 1985).

Sementara itu, mazhab Maliki dan Syafi'i menjelaskan bahwa Wadiah dilakukan dengan cara mewakilkan kepada pihak lain untuk penjagaan harta tertentu, di mana hanya harta yang memiliki nilai saja yang dapat dititipkan, kalau tidak ada nilai maka tidak dapat dititipkan, atau dalam kata lain tidak berlaku Wadiah untuk barang seperti pakaian sobek, sandal putus, anjing peliharaan biasa, babi, laptop rusak, dan sebagainya.

Harta titipan harus dijaga dengan sebaik-baiknya, ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan barang titipan pada saat penitip hendak mengambilnya.

Semakin bagus kualitas penjagaan, maka dapat meyakinkan penitip akan keamanan hartanya atau dalam kata lain penitip tidak perlu khawatir secara berlebihan.
Faisal
Faisal Hina bak donya hareuta teuh tan. Hina bak Tuhan ileume hana.

Post a Comment for "Wadiah di Kalangan Ulama Fikih"