Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wadiah Yad Adh-Dhamanah di BMI (Bank Muamalat Indonesia)

Wadiah Yad Adh-Dhamanah di BMI (Bank Muamalat Indonesia)

Beberapa praktisi menyatakan bahwa Wadiah Yad Adh-Dhamanah pada dasarnya diprakarsai oleh BMI (Bank Muamalat Indonesia), yang pertama kali murni Syariah.

Wadiah Yad Adh-Dhamanah merupakan hasil dari modifikasi Wadiah Yad Al-Amanah yang telah dilakukan oleh BMI, sebagai skema baru dalam hal pengelolaan dana.

Jenis ini, agak sama dengan sistem Mudharabah atau DPK (Dana Pihak Ketiga).

Hal ini dikarenakan adanya bagi hasil (dalam bentuk bonus).

Namun, yang membuat ini berbeda yaitu tidak adanya batas waktu dalam Wadiah Yad Adh-Dhamanah (nasabah dapat menarik uangnya kapan saja dia butuhkan), dan bonus tidak bersifat mengikat pihak bank, setiap keuntungan dapat diambil seluruhnya oleh bank atau diberikan sebagiannya kepada nasabah dalam bentuk bonus.

Jadi, dapat dipahami bahwa dalam Wadiah Yad Adh-Dhamanah tidak ada kesepakatan bagi hasil (seperti yang ada dalam Mudharabah), pemberian bonus hanya didasarkan pada kebijakan bank.

Sjahdaeni (1999), menyatakan bahwa praktik Wadiah Yad Adh-Dhamanah sesuai dengan pendapat mazhab Hanafi dan Maliki.

Dalam mazhab Hanafi, terdapat dua opsi yang harus diambil jika Wadi' (penerima titipan) memproduktifkan harta Wadiah:
  1. Menyedekahkan sebagian keuntungan kepada Muwaddi' (pemilik harta Wadiah).
  2. Keuntungan menjadi sepenuhnya hak Muwaddi', dan Wadi' hanya mendapatkan upah atas jasa yang telah diberikannya.
Sementara itu, mazhab Maliki tidak berbeda dengan mazhab lainnya, karena menyatakan bahwa Wadiah pada dasarnya bersifat amanah, dan bukan dhaman, akan tetapi ada beberapa hal yang membuat Wadiah menjadi batal atau gugur yaitu:
  • Wadi' mengalihkan barang titipan kepada orang lain tanpa adanya hambatan atau udzur, dan parahnya lagi barang yang dialihkan tersebut hilang pada saat Wadi' ingin mengambilnya.
  • Barang titipan dialihkan ke negara lain, bukan dari satu tempat ke tempat lain dalam negara yang sama.
  • Wadi' mencampurkan harta titipan dengan harta lain yang dimilikinya, sehingga sulit untuk dipisahkan atau bahkan tidak adanya kemungkinan membedakannya lagi.
  • Barang Wadiah dimanfaatkan Wadi' untuk kepentingannya sendiri, bukan menjaganya dengan baik.
  • Harta titipan dibiarkan begitu saja, atau tanpa dirawat sama sekali.
  • Wadi' tidak mematuhi kesepakatan yang telah dibuat pada saat akad ditandatangani.
Poin-poin di atas, tentunya, tidak sepenuhnya menunjukkan bahwa Wadiah Yad Al-Amanah bebas untuk dirubah menjadi Wadiah Yad Adh-Dhamanah.

Dengan demikian, penggunaan Wadiah Yad Adh-Dhamanah pada perbankan syariah, merupakan praktik yang dibenarkan berdasarkan ijtihad para ulama kontemporer, bukan didasarkan pada pendapat dua mazhab di atas, karena pada dasarnya mazhab Hanafi dan Maliki tidak menginginkan akan adanya perubahan tersebut.

Post a Comment for "Wadiah Yad Adh-Dhamanah di BMI (Bank Muamalat Indonesia)"