Zakat dalam Perspektif Sosial dan Ekonomi

Zakat dalam Perspektif Sosial dan Ekonomi

Bila ditinjau dari segi perekonomian, maka zakat tersebut berupa pengalihan sebagian harta kekayaan dari orang kaya kepada orang miskin atau kurang beruntung.

Jika dari segi sosial, maka akan didapati bahwa zakat dapat mempererat hubungan antara golongan kaya dan miskin, sehingga dapat menimbulkan rasa kekeluargaan.

Dan, jika dari segi agama, zakat merupakan rukun Islam yang paling utama, dan harus dikerjakan oleh setiap orang yang hartanya itu sudah sampai nishab, sebagai wujud dari kecintaannya kepada Allah.

Sehingga, dapat dipahami bahwa zakat tak hanya sekedar ibadah biasa, tapi dapat berkontribusi dalam hal peningkatan kualitas perekonomian dan perbaikan tatanan sosial.

Rahardjo (1987), dengan menggunakan aspek ekonomi, maka zakat dapat berkembang menjadi konsep kemasyarakatan/muamalah (konsep yang membahas tentang cara manusia berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat, yang mana di dalamnya terdapat aspek ekonomi).

Dalam istilah lain, pendistribusian zakat juga dapat berarti penyaluran sumber-sumber ekonomi.

Terdapat dua poin penting yang selalu menjadi titik perhatian dalam diskusi mengenai sosial ekonomi Islam, yaitu:
  1. Pelarangan riba, bukan tanpa alasan, riba itu sendiri dapat memperburuk tatanan sosial dan ekonomi masyarakat. Orang yang kaya akan ketagihan dengan sistem pinjaman berbunga, sementara orang miskin akan semakin melarat dalam melunasi hutangnya, yang ditambah bunga itu.
  2. Perintah membayar zakat, bertujuan untuk meminimalisir dampak buruk dari riba, dan sebagai wujud dari rasa peduli orang kaya terhadap orang miskin, serta untuk menurunkan tingkat kesenjangan di antara masyarakat (Al-Baqarah, 276).
Dari segi pendekatan etnis dan pemikiran rasional ekonomis, maka zakat berupa kebijaksanaan ekonomi yang mampu mengangkat derajat orang-orang yang kurang mampu, jadi dengan pendistribusian zakat secara tepat maka hasilnya akan menjadi lebih maksimal.

Distribusi zakat secara adil kepada orang-orang yang berhak menerimanya, akan menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan, karena hal inilah yang membuat zakat dapat mempengaruhi berbagai aspek yang berkaitan dengannya.

Umumnya, zakat didistribusikan secara langsung oleh Muzakki kepada Mustahik, dan ada juga yang didistribusikan oleh lembaga, setelah dilakukannya pembayaran oleh Muzakki kepada lembaga yang bersangkutan.

Distribusi oleh lembaga, tentunya, dapat memberikan pengaruh yang lebih baik, karena disalurkan berdasarkan program-program unggulan yang dirancang dengan baik untuk meningkatkan kualitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Jenis-jenis harta yang dikenakan zakat antara lain hasil perdagangan, hewan ternak, hasil pertanian dan buah-buahan, hasil profesi, rikaz (barang temuan), emas atau perak, investasi, dan tabungan.

0 Response to "Zakat dalam Perspektif Sosial dan Ekonomi"

Post a Comment

Selamat berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel