Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Zakat dan Institusi Baitulmal

Zakat dan Institusi Baitulmal

Zakat, sudah pasti tidak dapat memberikan pengaruh yang maksimal kalau pengelolaannya tidak tepat, sehingga dibutuhkan lembaga amil zakat atau baitul mal, untuk bergerak secara profesional dalam pengelolaan zakat, dengan berbagai program terbaik yang dimilikinya.

Di samping itu, dengan adanya baitul mal, maka masyarakat akan lebih mudah dalam membayar zakat, tanpa harus membagikannya sendiri kepada para Mustahik.

Manfaat lainnya yaitu, harta zakat yang dibayarkan akan terkumpul di baitul mal, dan membentuk suatu kumpulan aset yang besar, hal ini, tentunya akan memperlancar upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam skala yang lebih luas.

Sebagai departemen keuangan negara, baitul mal akan beroperasi sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sehingga konsep operasionalnya akan lebih terukur dan terarah, atau dalam kata lain sangat kecil kemungkinan untuk penyalahgunaan dana zakat.

Kehadiran baitul mal, dapat dikatakan sebagai wujud dari amil zakat profesional, yang siap untuk melayani tahap penghimpunan dan penyaluran dana zakat secara terstruktur.

Pada dasarnya, hal yang paling tidak baik dalam kehidupan masyarakat yaitu tingginya kesenjangan antara orang kaya dan miskin, untuk memastikan agar zakat yang ingin disalurkan tepat sasaran, maka sangat dibutuhkan akan bantuan dari baitul mal, di mana dalam penyaluran zakat, pihak baitul mal akan menganalisis dengan baik anggota masyarakat, agar penyalurannya benar-benar untuk orang yang berhak menerimanya.

Sebenarnya, operasional baitul mal tidak terbatas pada pengumpulan dan penyaluran zakat saja, akan tetapi juga untuk mengelola pemasukan lainnya, antara lain:
  • Kharaj, cukai hasil tanah (pertanian) yang biasanya akan dikenakan kepada pemilik selain Muslim (non-Muslim).
  • Jizyah, upeti per kapita yang dipungut dari penduduk non-Muslim dalam suatu negara, sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan dalam Islam.
  • Khums, 1/5 (seperlima) dari jenis harta tertentu seseorang yang harus dibayarkan sebagai cukai.
  • Ushur, pajak atau bayaran yang ditetapkan pada barang dagangan (perniagaan), berkaitan dengan perlintasan batas-batas negara, atau bisa juga disebut sebagai pajak khusus terhadap barang-barang yang masuk ke negara Islam.
  • Dan berbagai sumber pendapatan lain, yang memungkinkan pengelolaannya oleh baitul mal.
Keunggulan yang sangat menarik, di mana pada masa Ali bin Abi Thalib, baitul mal beroperasi sebagai institusi percetakan dinar dan dirham untuk keperluan moneter negara ketika itu.

Sementara itu, di Indonesia, umumnya baitul mal berfungsi sebagai lembaga yang menghimpun dan menyalurkan dana:
  • Zakat, bagian dari harta tertentu yang wajib dikeluarkan atau diberikan kepada Mustahik (orang yang berhak menerima zakat), bila telah sampai nishab.
  • Infaq/infak, pengeluaran harta yang pokok, baik berupa zakat ataupun non-zakat.
  • Hibah, pemberian dari satu pihak kepada pihak lain, di mana pihak yang memberinya masih hidup.
  • Wakaf, pemberian sebagian harta untuk keperluan ibadah atau peningkatan kesejahteraan masyarakat, baik dalam jangka waktu tertentu atau untuk dimanfaatkan selama-lamanya.
Semua dana yang berhasil dikumpul oleh baitul mal, akan dimanfaatkan untuk perbaikan tatanan sosial, ekonomi, dan peningkatan kualitas keagamaan atau keimanan masyarakat.

Post a Comment for "Zakat dan Institusi Baitulmal"