Argumen yang Mendukung Diizinkannya Bai Al-Inah

Argumen yang Mendukung Diizinkannya Bai Al-Inah

Para ahli hukum Islam masa lalu memiliki pandangan yang berbeda tentang menentukan hukum (aturan) bai' al-inah, di antaranya:
  • Mayoritas, mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali berpendapat bahwa bai' al-inah tidak diizinkan karena itu merupakan alasan hukum untuk melegitimasi riba (usury).
  • Mazhab Hanafi berpendapat bahwa bai' al-inah hanya diizinkan jika melibatkan pihak ketiga, yang bertindak sebagai perantara antara penjual (kreditor) dan pembeli (debitur).
  • Mazhab Maliki dan Hanbali, di sisi lain, menolak bai' al-inah dan menganggapnya tidak sah. Pendapat mereka didasarkan pada pencegahan praktik yang dapat menyebabkan tindakan terlarang, dalam hal ini, riba.
  • Dasar untuk pendapat mayoritas ahli hukum Islam adalah dialog Hadis antara Aisyah (istri Nabi Muhammad) dan Zaid Al-Arqam, yang menjelaskan pelarangan bai' al-inah. Mereka juga berpegang pada Nabi Muhammad (SAW) ketika dia memperingatkan bahwa mereka yang mempraktikkan bai' al-inah akan menderita cemoohan.
  • Mazhab Syafi'i dan Zahiri memandang bai' al-inah sebagai diizinkan. Sebuah kontrak dinilai oleh apa yang diungkapkan dan niat seseorang terserah Allah untuk menghakimi. Mereka mengkritik fakta bahwa Hadis digunakan oleh mayoritas ahli hukum Islam sebagai dasar untuk argumen mereka, mengatakan bahwa Hadis itu lemah dan karenanya tidak dapat digunakan.
Faisal
Faisal Hina bak donya hareuta teuh tan. Hina bak Tuhan ileume hana.

Post a Comment for "Argumen yang Mendukung Diizinkannya Bai Al-Inah"