Interaksi antara Derivatif dan Pembiayaan Syariah

Interaksi antara Derivatif dan Pembiayaan Syariah

Selama 20 tahun terakhir kontrak derivatif telah menjadi populer di pasar keuangan global.

Derivatif, seperti swap suku bunga dan opsi, kontrak komoditas berjangka, opsi dan future, mata uang dan opsi berjangka, berasal dari kinerja masa depan yang diharapkan dari masing-masing aset yang mendasarinya.

Pentingnya kontrak yang seringkali sangat kompleks ini dapat dipahami oleh ukuran pasar mereka.

Derivatif berdasarkan suku bunga dan nilai tukar, diperdagangkan di pasar OTE, mendominasi tren pertumbuhan serta menyajikan komposisi transaksi ini.

Kontrak-kontrak ini sering digambarkan sebagai mixed blessing.

Sebagai mekanisme lindung nilai yang layak, derivatif membantu dalam menjaga terhadap fluktuasi suku bunga, saham, komoditas dan harga mata uang.

Pada saat yang sama, mereka dapat menjadi dasar bagi ancaman potensial terhadap stabilitas sistem keuangan global.

Misalnya, derivatif menghasilkan aset dan liabilitas di luar neraca tetapi menekan pengungkapan yang diperlukan, oleh karena itu estimasi akurat risiko default perusahaan yang menggunakan derivatif hampir menjadi mustahil.

Selain itu, karena kompleksitas kontrak, banyak masalah potensial tetap tidak teridentifikasi.

Untuk menghindari kemungkinan ketidakstabilan sistem keuangan global, langkah-langkah untuk mendisiplinkan pasar sedang dilakukan di berbagai kalangan.

Ini termasuk, misalnya, peraturan pemerintah, persyaratan untuk lebih banyak pengungkapan, dan upaya untuk meningkatkan keahlian profesional untuk memahami sifat kontrak.

Untuk memahami kemungkinan interaksi antara kontrak derivatif dan pembiayaan syariah, dapat dicatat bahwa derivatif sebagian merupakan produk dari peningkatan modal risiko global.

Pembiayaan syariah, berdasarkan pada partisipasi, dapat diharapkan untuk memperkuat pasar untuk derivatif.

Namun demikian, bentuk-bentuk derivatif yang dominan, yaitu swap bunga dan nilai tukar mata uang dan opsi akan tidak pada tempatnya di bawah pembiayaan syariah, apalagi, pembiayaan syariah mensyaratkan bahwa dalam kontrak apa pun untuk pengiriman di masa mendatang, harga harus dibayar di muka.

Ini akan mengendalikan perdagagan spekulatif future.

Selain itu, kontrak keuangan tidak boleh menguntungkan satu pihak dengan merugikan pihak lainnya.

Ini membutuhkan perubahan filosofi dasar yang mendasari derivatif, yang sering mengakibatkan pemisahan antara yang menang dan yang kalah.

Dengan pertimbangan dasar ini, diusulkan bahwa beberapa jenis derivatif, terutama beberapa bentuk opsi yang dimodifikasi dalam saham dan sertifikat keuangan syariah, akan terus memberikan fungsi yang berguna di bawah pembiayaan syariah.

Modifikasi diperlukan untuk memastikan bahwa harga yang dibayarkan untuk setiap opsi sebenarnya adalah harga dari aset dasar yang dibayar di muka, bukan harga dari opsi itu sendiri.

Ini diwajibkan oleh fakta bahwa dalam pembiayaan Islam opsi dengan sendirinya tidak diakui sebagai aset yang dapat dipasarkan.

Namun, dapat dikatakan bahwa jika persyaratan Islam ini diperkenalkan, instrumen derivatif akan kehilangan potensinya sebagai mekanisme lindung nilai dan minat terhadapnya akan hilang.

Derivatif juga dapat memainkan fungsi berguna lainnya dalam kerangka pembiayaan Islam.

Untuk memanfaatkan sepenuhnya manfaat tersebut, dan memanfaatkannya, diperlukan upaya praktis dan konseptual yang substansial.
Faisal
Faisal Hina bak donya hareuta teuh tan. Hina bak Tuhan ileume hana.

Post a Comment for "Interaksi antara Derivatif dan Pembiayaan Syariah"