Karakteristik dan Aturan Wakaf

Karakteristik dan Aturan Wakaf

Para ulama mempertimbangkan wakaf dalam tiga kategori.

Kategori pertama - wakaf keagamaan - mengacu pada masjid dan properti yang dibatasi untuk menyediakan pendapatan yang akan dihabiskan untuk pemeliharaan dan pengeluaran rutin mereka.

Kategori kedua - wakaf filantropis - bertujuan memberikan manfaat bagi segmen masyarakat miskin.

Semua program dan kegiatan yang berguna bagi masyarakat luas, seperti, penyediaan pendidikan, pelatihan, kesehatan, perawatan hewan, perlindungan lingkungan, dan keuangan mikro dapat dilakukan oleh wakaf filantropi.

Wakaf filantropis pertama dalam sejarah Islam muncul ketika Nabi Muhammad SAW memerintahkan rekannya Utsman untuk membeli sumur "Raumah" di Madinah dan membuat wakaf yang sama.

Tujuannya adalah untuk meringankan kesulitan yang dihadapi orang miskin di kota dalam pengadaan air minum yang sangat mahal.

Kategori ketiga wakaf disebut wakaf keluarga di mana anak-anak dan keturunan dari pewakaf (wakif) memiliki hak pertama pada manfaat dan pendapatan wakaf.

Hanya surplus, jika ada, yang harus diberikan kepada orang miskin.

Jelas untuk mencapai tujuan pengentasan kemiskinan, wakaf filantropi dapat memainkan peran utama.

Aturan Dasar Wakaf


Wakaf adalah lembaga bersejarah.

Aturan yang mengatur wakaf cukup rumit dan didokumentasikan dengan baik.

Aturan dasarnya bertujuan untuk melindungi wakaf ini, untuk menyediakan kondisi untuk pengembangan dan ekspansi mereka, untuk memastikan bahwa pendapatan wakaf dibelanjakan sesuai denngan niat dari pewakaf (wakif) dan manajer perwalian (mutawalli) melakukan tanggung jawab mereka dengan sungguh-sungguh dan dengan integritas.

Karakteristik Dasar Wakaf


Karakteristik dasar wakaf adalah kelangsungan atau keabadian.

Properti wakaf tidak dapat dijual atau ditransfer dalam keadaan normal.

Penghapusan karakter wakaf dari properti membutuhkan prosedur hukum yang sulit dan panjang.

Dalam kondisi di mana ini mungkin dianggap sangat diinginkan, para ulama menempatkan kondisi yang ketat di mana ini dapat dilakukan.

Ini membutuhkan proses pertukaran properti wakaf untuk properti lain yang bernilai setara dengan persetujuan pengadilan setempat.

Setelah menyelesaikan pertukaran tersebut, properti baru harus didedikasikan sebagai wakaf untuk tujuan dan penerima manfaat yang sama dengan properti sebelumnya.

Karena wakaf adalah tindakan kebajikan sukarela, persyaratan yang ditentukan oleh pendiri harus dipenuhi untuk surat mereka selama mereka tidak bertentangan atau melanggar salah satu keputusan Syariah.

Ini menyiratkan bahwa pendapatan wakaf harus secara eksklusif digunakan untuk tujuan dan sesuai dengan ketentuan pendirinya (wakif).

Dokumen wakaf berisi semua ketentuan pendiri (wakif).

Jika tujuan wakaf menjadi tidak relevan atau tidak layak, maka pendapatannya harus dibelanjakan pada jalan terdekat yang tersedia.

Jika jalan atau cara seperti itu tidak ada, maka pendapatan akan diarahkan kepada orang fakir dan miskin.

Pengelolaan wakaf dilakukan sesuai dengan ketentuan pendirinya oleh wali amanat atau manajer yang disebut mutawalli atau nazir yang diminta untuk mengelola properti wakaf demi kepentingan terbaik penerima manfaat.

Namun, tanggung jawab utama mutawalli adalah pelestarian dan perlindungan properti, diikuti oleh pemaksimalan manfaat atau pendapatan penerima manfaat.

Penting untuk dicatat bahwa aturan wakaf secara historis berevolusi dengan tujuan utama melindungi dan melestarikan wakaf.

Campur tangan skala besar dan kontrol properti wakaf oleh negara, dapat mengabaikan ketentuan asli pendiri tentang pengelolaan wakaf.

Para ulama kontemporer menganjurkan peran minimum negara dalam masalah-masalah wakaf dan menegaskan perlunya manajemen properti wakaf yang efisien untuk memaksimalkan manfaat bagi penerima manfaat yang disebutkan.
Faisal
Faisal Hina bak donya hareuta teuh tan. Hina bak Tuhan ileume hana.

Post a Comment for "Karakteristik dan Aturan Wakaf"