Komponen Manajemen Aset Syariah

Komponen Manajemen Aset Syariah

Instrumen Keuangan Islam


Manajemen aset Islami berhubungan dengan konsep pembiayaan Islami.

Konsep ini melibatkan instrumen keuangan Islam seperti pembiayaan cost-plus (murabahah), bagi hasil (mudharabah), leasing (ijarah), kemitraan (musyarakah), dan penjualan forward (bai salam).

Instrumen-instrumen ini bertindak secara efisien sebagai sarana manajemen aset Islam dan berfungsi sebagai blok dasar untuk mengembangkan beragam instrumen keuangan yang lebih kompleks, menunjukkan bahwa ada potensi besar untuk inovasi dan ekspansi keuangan di pasar keuangan Islam.

Penjelasan dari instrumen keuangan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Perdagangan dengan markup atau penjualan cost-plus (murabahah) adalah salah satu instrumen yang paling banyak digunakan untuk pembiayaan jangka pendek. Sekitar 75 persen dari transaksi keuangan Islam dianggap sebagai penjualan cost-plus. Ini didasarkan pada gagasan tradisional tentang keuangan pembelian. Dalam transaksi ini penjual memberi tahu pembeli tentang biayanya untuk memperoleh atau memproduksi produk dan kemudian margin atau mark-up dinegosiasikan antara pembeli dan penjual.
  2. Leasing (ijarah) adalah instrumen populer lainnya dan menyumbang sekitar 10 persen dari transaksi keuangan Islam. Ini dirancang untuk membiayai kendaraan, mesin, peralatan, dan pesawat terbang. Berbagai bentuk leasing diizinkan, termasuk leasing di mana sebagian pembayaran cicilan dilakukan untuk pembelian akhir (dengan pengalihan kepemilikan kepada penyewa).
  3. Perjanjian bagi hasil (mudharabah) adalah bentuk unik dari transaksi modal usaha patungan. Di sini, suatu entitas menyumbangkan semua modal dan pihak lain menyumbangkan keahlian dan/atau tenaga kerja. Sebagai imbalannya, kedua belah pihak sepakat untuk berbagi keuntungan yang direalisasikan. Pemilik modal mengasumsikan potensi kerugian sebagai bagian dari risiko. Oleh karena itu, cocok untuk kegiatan perdagangan karena struktur jatuh tempo berkisar dari jangka pendek hingga menengah.
  4. Partisipasi ekuitas (musyarakah) mirip dengan usaha patungan klasik. Baik wirausahawan maupun investor berkontribusi pada modal (aset, keahlian teknis dan manajerial, modal kerja, dan sebagainya) dari operasi dalam berbagai tingkat dan setuju untuk berbagi pengembalian, serta risiko, dalam proporsi yang disepakati sebelumnya. Secara tradisional, bentuk transaksi ini telah digunakan untuk membiayai aset tetap dan modal kerja dengan durasi jangka menengah dan panjang.
  5. Kontrak penjualan, atau penjualan pembayaran yang ditangguhkan (bai muajjal) dan kontrak penjualan yang ditangguhkan (bai salam), di samping penjualan spot, digunakan untuk melakukan penjualan kredit. Dalam penjualan pembayaran yang ditangguhkan, pengiriman produk dilakukan di tempat tetapi pengiriman pembayaran ditunda untuk periode yang disepakati. Pembayaran dapat dilakukan secara sekaligus atau cicilan.
Ini adalah pinjaman tanpa bunga yang dianjurkan Al-Qur'an agar tersedia bagi mereka yang membutuhkan.

Jika ada bunga (riba) dalam transaksi apa pun, Allah pasti akan menghukum orang-orang yang terlibat di akhirat.

0 Response to "Komponen Manajemen Aset Syariah"

Post a Comment

Selamat berkomentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel