Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Penafsiran yang Berbeda tentang Makna Riba

Penafsiran yang Berbeda tentang Makna Riba

Pertanyaan 'Apa sebenarnya riba?' menyangkut banyak ulama.

Secara harfiah, kata itu berarti meningkatkan, penambahan, ekspansi atau pertumbuhan.

Istilah syariah riba mengarah pada premi yang harus dibayar oleh peminjam kepada pemberi pinjaman ditambah dengan jumlah uang pokok sebagai syarat untuk pinjaman atau untuk perpanjangan jatuh tempo.

Menurut Warde riba benar-benar merujuk pada setiap keuntungan haram yang diperoleh dari ketidakmerataan kuantitatif nilai-nilai lawan.

Bunga hanyalah salah satu bentuk riba.

Perintah terhadap riba adalah landasan keuangan Islam.

Namun, banyak perdebatan yang terjadi mengenai arti kata yang tepat.

Perdebatan ini telah memecah belah para ulama; beberapa menentang semua jenis bunga sementara yang lain mengizinkan bunga yang wajar.

Mayoritas dari mereka menggunakan definisi yang terbatas dan menganggap setiap bentuk bunga sebagai riba.

Setiap peningkatan jumlah uang yang dikembalikan oleh peminjam dianggap riba dan karenanya dilarang.

Diskusi apakah semua jenis bunga merupakan riba sebagian berkembang di sekitar masalah inflasi.

Beberapa ulama mengklaim bahwa Islam memungkinkan tingkat bunga yang wajar dan menganggap hanya usury sebagai riba.

Jika bunga yang masuk akal diizinkan maka larangan akan berlaku untuk bunga riil (yaitu, tingkat bunga dikurangi tingkat inflasi) sebagai lawan dari bunga nominal.

Dalam inflasi, nilai uang deposan sendiri akan turun seiring waktu.

Dengan tidak adanya bunga dalam periode inflasi berarti, akan menghasilkan bunga riil negatif, sehingga akan mensubsidi peminjam dan menghukum pemberi pinjaman.

Post a Comment for "Penafsiran yang Berbeda tentang Makna Riba"