Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hybrid Contract pada Lembaga Keuangan Syariah

Hybrid Contract pada Lembaga Keuangan Syariah

Terkadang, penggunaan satu akad saja dalam transaksi dapat menghambat atau mempersulit transaksi itu sendiri.

Hal ini dikarenakan, kebutuhan akan transaksi antara nasabah yang satu dengan nasabah lainnya berbeda.

Ada yang cukup dengan menggunakan satu akad saja, dan ada juga yang membutuhkan dua akad secara berurutan.

Penggunaan lebih dari satu akad, sering diistilahkan dengan hybrid contract, yang pada umumnya meliputi:
  • Musyarakah mutanaqishah.
  • Ijarah muntahiyah bittamlik.
  • Bai al-wafa.
Akad musyarakah mutanaqishah dan ijarah muntahiyah bittamlik sudah sering dipraktikkan di lembaga keuangan syariah, beda sekali dengan bai al-wafa yang masih jarang dipraktikkan atau diterapkan.

Berikut penjelasan singkat mengenai ketiga contoh hybrid contract di atas:

Musyarakah Mutanaqishah


Sejalan dengan fatwa DSN-MUI No. 73 Tahun 2008, diberlakukannya akad turunan dari musyarakah, yaitu akad musyarakah mutanaqishah.

Musyarakah mutanaqishah sering disingkat dengan MMQ yang memiliki arti suatu bentuk kerjasama yang dilakukan antara dua orang atau lebih, yang bertujuan untuk memiliki suatu aset.

Dalam akad ini, salah satu pihak akan membayar harga pembelian terhadap aset kepada pihak lain, sehingga bagian aset untuknya akan terus meningkat, sementara pihak satu lagi akan terus berkurang, yang pada gilirannya seluruh aset akan berpindah kepemilikan kepada pihak yang membayar atau membeli tadi.

MMQ itu sendiri telah banyak diterapkan pada produk perbankan syariah, baik itu Bank Umum Syariah (BUS) ataupun Unit Usaha Syariah (UUS), dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan nasabah dalam hal memiliki suatu aset tertentu.

Bank syariah memberikan pembiayaan berbasis kemitraan, dalam perjalanannya nasabah mencicil pembayaran terhadap aset yang dimiliki secara bersama tersebut, sampai pada akhirnya seluruh aset akan berpindah tangan kepada pihak nasabah.

Umumnya, pembiayaan musyarakah mutanaqishah terkait dengan kepemilikan aset seperti rumah atau kendaraan.

Bisa dikatakan bahwa, akad musyarakah mutanaqishah merupakan model pembiayaan multi akad (hybrid) yang terdiri dari akad musyarakah dan ijarah.

Ijarah Muntahiyah Bittamlik


Ijarah muntahiyah bittamlik merupakan gabungan antara akad sewa (ijarah) dan jual beli (bai), sehingga dapat diterjemahkan sebagai sewa menyewa yang diakhiri dengan perpindahan kepemilikan kepada pihak penyewa atas dasar pembelian atau hibah.

Adapun pengertian ijarah muntahiyah bittamlik menurut fatwa No. 27/DSN-MUI/III/2002 yaitu akad penyediaan dana dalam konteks perpindahan hak guna atau manfaat dari suatu aset sesuai dengan akad sewa (ijarah) dengan opsi perpindahan kepemilikan barang kepada penyewa di akhir masa sewa.

Bank syariah sering mengaplikasikan ijarah muntahiyah bittamlik dalam bentuk pembiayaan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).

Di mana, bank menyewakan rumah kepada nasabah, dan pada akhirnya bank dapat menjual atau menghibahkan rumah tersebut kepada nasabah.

Bai Al-Wafa


Dari segi bahasa, bai berarti transaksi jual beli dan al-wafa pelunasan utang.

Sementara menurut istilah yaitu jual beli bersyarat, di mana penjual dapat menebus kembali barang yang dijualnya ketika telah jatuh tempo.

Bai al-wafa sering diaplikasikan pada jual beli barang yang tidak bergerak, seperti rumah dan tanah.

Karena ini merupakan akad jual beli, pembeli dapat memanfaatkan barang yang dibelinya secara bebas, dengan satu syarat, barang tersebut tidak dapat dijual kepada pihak lain, selain penjual semula.

Ini menjelaskan bahwa pembeli harus siap untuk mengembalikan barang kepada penjual, bila si penjual telah mempunyai uang untuk menebusnya.

Bai al-wafa sering dikritik sebagai trik untuk menghindari praktik riba, namun selama pelunasan hutang tidak melebihi pokok utang tidak masalah atau dibolehkan.

Post a Comment for "Hybrid Contract pada Lembaga Keuangan Syariah"