Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pilar-pilar Keuangan Islam

Pilar-pilar Keuangan Islam

Keuangan Islam adalah hasil dari kebutuhan untuk memperluas ajaran agama ke aktivitas ekonomi sedemikian rupa sehingga manfaat dibagi secara merata di antara semua pemangku kepentingan dan ekonomi secara keseluruhan.

Beberapa fitur mendasar lainnya dari keuangan Islam meliputi:
  • Time value of money. Di bawah keuangan Islam, nilai waktu dari uang tidak diakui, yaitu, setelah harga jual ditetapkan untuk pembiayaan, bahkan jika aset menjadi 'nonperforming', lembaga tidak dapat mengklaim lebih dari harga jual pra-tetap. Iuran untuk lembaga, setelah ditetapkan, tetap fixed.
  • Asset backed. Biasanya semua struktur Islam memiliki aset dasar yang mendukung kesepakatan. Dengan demikian, pembiayaan di bawah struktur Islam memiliki kecenderungan untuk mengendalikan inflasi.
  • Means and end. Meskipun profitabilitas dapat dinyatakan sebagai 'end' umum untuk lembaga keuangan Islam dan konvensional, lembaga-lembaga Islam dengan hati-hati menyusun dan mematuhi prosedur dan langkah-langkah (means) proses untuk memastikan bahwa keuntungan yang diperoleh sesuai dengan keputusan Syariah.
  • Process orientation. Setiap struktur pembiayaan terdiri dari proses dan tugas. Bahkan jika suatu transaksi harus dipenuhi dengan melewatkan 'satu tugas', transaksi tersebut akan dianggap tidak sah di mata Syariah. Misalnya, dalam transaksi murabahah, lembaga diizinkan untuk mendapatkan laba hanya sebagai hadiah untuk risiko yang ditanggung, sebagaimana dibutikan oleh lembaga yang sebelumnya memiliki aset tersebut. Jika institusi tidak memiliki kepemilikan sebelumnya (dan karenanya risiko kehancuran) transaksi akan menjadi tidak valid.

Post a Comment for "Pilar-pilar Keuangan Islam"