Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Karakteristik Batasan Kebebasan Berkontrak dalam Perjanjian Syariah

Karakteristik Batasan Kebebasan Berkontrak dalam Perjanjian Syariah

Islam selalu memberikan kemudahan bagi para pengikutnya, termasuk kemudahan dalam hal melakukan suatu akad atau perjanjian.

Di mana, kedua belah pihak yang melakukan akad dapat dengan bebas menentukan bentuk dan tujuan dari akad itu sendiri.

Selama kebebasan tersebut masih dianggap wajar atau tidak bertentangan dengan aturan Syariah, maka para pihak dibolehkan untuk melanjutkan akad atau perjanjian yang sudah disepakati tersebut dan akan mengikat keduanya untuk memenuhi janji-janji mereka.

Akad yang sah, akan memberikan pengaruh hukum dan mamastikan hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak yang melakukannya.

Setiap orang diberikan kebebasan untuk melakukan akad sesuai dengan kehendak hatinya, namun hal yang perlu diperhatikan bahwa yang menentukan sah atau tidaknya suatu akad adalah aturan atau hukum Islam.

Inilah yang sering disebut sebagai kebebasan yang tidak absolut atau kebebasan yang memiliki batas-batas tertentu.

Contoh dari kebebasan berkontrak antara lain:
  • Bebas dalam hal menentukan objek kontrak.
  • Bebas dalam menentukan siapa saja yang akan terlibat dalam kontrak.
  • Juga bebas dalam menentukan mekanisme penyelesaian sengketa.
Dengan adanya kebebasan tersebut, sudah jelas bahwa setiap orang dapat melakukan kontrak, selama tidak bertentangan dengan sumber utama hukum Islam yaitu Al-Qur'an dan Sunnah.

Pada dasarnya, Al-Qur'an dan Hadis telah menetapkan asas kebebasan berkontrak sebagai bagian penting dari keberhasilan sebuah akad yang dibuat.

Asas kebebasan berkontrak merupakan penjelasan lebih lanjut mengenai apa yang dapat dilakukan dalam kontrak, dan apa yang harus dihindari, sehingga setiap keputusan yang dibuat dalam akad terarah dan berada dalam bingkai Syariah.

Di samping itu, juga terdapat perintah untuk memenuhi setiap akad atau perjanjian yang telah dibuat, tepatnya dalam surah Al-Maidah ayat 1, di mana Allah meminta kepada orang-orang yang beriman agar memenuhi akad-akad mereka.

Sehingga bisa dikatakan bahwa hukum Syariah untuk memenuhi suatu akad adalah wajib dan harus dilaksanakan sesuai dengan yang telah disepakati sebelumnya.

Penghargaan Islam terhadap kebebasan berkontrak sangat berkaitan erat dengan paradigma dasar hukum Islam itu sendiri, yang bertujuan untuk memberikan kemaslahatan bagi semua orang, atau sering diistilahkan sebagai rahmatan lil 'alamin.

Kebebasan berkontrak dianggap sebagai bagian penting dalam sebuah perjanjian, karena ini juga menyangkut dengan sifat alami manusia, yang menginginkan kebebasan dan kemudahan, atau dalam kata lain, jika suatu akad terlalu kaku atau tanpa adanya kebebasan atau kelonggaran sedikit pun, maka manusia akan menemukan kesulitan dan hambatan dalam setiap akad yang dibuatnya.

Ada beberapa contoh larangan terkait kontrak yang harus dihindari:
  • Larangan transaksi yang mengandung riba.
  • Transaksi yang mengandung ketidakjelasan (gharar).
  • Jual beli makanan atau minuman haram.
Batasan tersebut bertujuan agar manusia yang satu dengan yang lainnya saling menghargai terhadap hak dan kewajiban masing-masing, juga agar tidak timbulnya perilaku penganiayaan ataupun perselisihan.

Hal yang paling penting dari asas kebebasan berkontrak yaitu memastikan bahwa tidak ada pihak yang dapat memanfaatkan, memaksakan, atau merugikan orang lain, atau dalam kata lain setiap pihak harus diberikan opsi untuk memilih mana yang menurutnya lebih baik dan dibenarkan oleh Syariah.
Faisal
Faisal Hina bak donya hareuta teuh tan. Hina bak Tuhan ileume hana.

Post a Comment for "Karakteristik Batasan Kebebasan Berkontrak dalam Perjanjian Syariah"