Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Larangan Spekulasi dalam Perdagangan Valuta Asing (Valas)

Larangan Spekulasi dalam Perdagangan Valuta Asing (Valas)

Perdagangan valuta asing untuk hubungan sektor riil (barang atau jasa) dibolehkan dalam Islam.

Beda halnya dengan transaksi valas yang dilakukan atas dasar spekulasi, sangat dilarang.

Ada beberapa alasan umum terkait pelarangan transaksi valas yang bermotif spekulasi:
  • Spekulasi, dapat merubah transaksi valas menjadi kegiatan perjudian.
  • Margin trading dapat menyebabkan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, dan hal ini dianggap dapat memberikan ancaman bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
  • Margin trading tidak sejalan dengan sistem bisnis yang adil.
  • Tidak adanya transaksi riil, di mana para pelaku hanya memanfaatkan selisih dari harga valuta asing pada saat penutupan.
Pada dasarnya, uang bukanlah suatu komoditas, sehingga tidak dapat diperjual belikan, namun yang terjadi dalam transaksi valuta asing yaitu uang diperlakukan sebagai komoditas perdagangan.

Taqiyyuddin An-Nabhani, menyatakan bahwa uang merupakan standar nilai terhadap barang dan jasa.

Perdagangan valas dengan cara spekulasi sudah terbukti dapat memberikan dampak buruk bagi sistem perekonomian internasional, juga dapat mengancam ekonomi banyak negara.

Sehingga, upaya untuk menghilangkan motif spekulasi dalam transaksi valas harus ditingkatkan.

Ekonomi Islam memandang bahwa transaksi valas dapat dilakukan jika itu benar-benar dibutuhkan untuk sektor riil, misalnya untuk kebutuhan impor dan pembayaran jasa luar negeri, juga harus mengikuti aturan yang berlaku untuk sharf, tepatnya dalam Fatwa No. 28/DSN-MUI/III/2002 Tentang Jual Beli Mata Uang (al-Sharf).

Dampak Spekulasi dalam Perdagangan Valas


Spekulasi dalam perdagangan valas secara tidak langsung dapat menyebabkan ketidakstabilan nilai tukar mata uang, di mana nilai mata uang suatu negara berfluktuasi secara tajam.

Rendahnya nilai tukar, akan berakibat pada inflasi, yang mana inflasi itu sendiri merupakan hal yang sama sekali tidak diinginkan.

Di samping itu, aktivitas spekulasi dalam perdagangan valas juga dapat merusak kinerja perusahaan yang memang sangat bergantung pada bahan impor, yang berakibat pada rendahnya produk yang dapat dihasilkan dan pemberhentian kerja.

Terlepas dari itu, ekonomi Islam sangat mengharapkan agar adanya kesesuaian antara sektor riil dan sektor keuangan, karena jika ini tidak seimbang (hanya berfokus pada sektor keuangan), maka ekonomi dunia akan rentan terhadap krisis, khususnya ekonomi negara-negara berkembang.

Post a Comment for "Larangan Spekulasi dalam Perdagangan Valuta Asing (Valas)"