Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Macam-macam Perjanjian dalam Hukum Islam

Macam-macam Perjanjian dalam Hukum Islam

Akad dibagi kepada beberapa bagian, tergantung pada sudut pandang, misalnya saja jika dilihat dari segi:

Penentuan Nama


Dari segi penentuan namanya, ada akad yang memiliki nama (al-uqud al-musamma) dan akad yang tidak bernama (al-uqud ghair al-musamma).

Al-uqud al-musamma merupakan jenis akad yang sudah ditentukan namanya oleh para pembuat hukum, dan juga telah ditentukan aturan khusus, baik itu berupa rukun atau syarat tertentu yang berbeda dengan akad lainnya.

Para ahli telah berbeda pendapat mengenai jumlah al-uqud al-musamma:
  • Al-Kasani, ada 18 al-uqud al-musamma.
  • Wahbah al-Zuhayli, 13 al-uqud al-musamma.
  • Az-Zarqa, 25 al-uqud al-musamma.
Sedangkan al-uqud ghair al-musamma adalah akad yang tidak diatur atau ditetapkan secara khusus dalam berbagai kitab fikih, dalam satu nama khusus atau satu ketentuan khusus.

Sehingga, dapat dikatakan bahwa ketentuan mengenai al-uqud ghair al-musamma dapat disesuaikan sendiri oleh para pihak yang melakukannya, dan sejalan dengan kebutuhan dan tujuan mereka.

Contoh al-uqud ghair al-musamma yaitu perjanjian publikasi dan periklanan.

Kedudukan


Dari segi kedudukannya, akad dibagi ke dalam dua macam:
  1. Akad pokok (al-aqdu al-asli).
  2. Akad tambahan (al-aqdu at-tabi).
Al-aqdu al-asli merupakan akad yang independen atau berdiri sendiri tanpa bergantung pada akad lainnya.

Contoh dari al-aqdu al-asli seperti akad bai, ijarah, wadiah, mudharabah, musyarakah, dan sebagainya.

Beda dengan al-aqdu at-tabi, yang bergantung pada suatu hak terkait ada atau tidaknya, sah atau tidaknya akad tersebut.

Adapun contoh akad yang dimaksud yaitu al-kafalah (jaminan) dan ar-rahn (gadai), yang keduanya bersifat menjamin, sehingga akad ini tidak dilakukan apabila tidak adanya hak-hak yang akan dijamin.

Tempo atau Jangka Waktu


Dari segi tempo, akad terbagi kepada dua macam, pertama yaitu akad bertempo (al-aqd az-zamani) dan kedua, akad tidak bertempo (al-aqd al-fauri).

Al-aqd az-zamani adalah akad yang mempersyaratkan unsur waktu, misalnya akad ijarah dan wadiah.

Sementara itu, al-aqd al-fauri adalah akad yang tidak menentukan unsur waktu sebagai bagian pokok dari perjanjian, seperti jual beli secara tunai.

Formalitas


Dari segi formalitasnya, akad dibagi menjadi:
  • Akad konsensual (al-aqd ar-radhai).
  • Akad formalistik (al-aqd asy-sykli).
  • Akad riil (al-aqd al-aini).
Al-aqd ar-radhai adalah akad yang hanya memerlukan kesepakatan atau kerelaan dari kedua belah pihak saja, atau dalam kata lain tidak perlu adanya formalitas tertentu, kecuali hanya sedikit bukti bila itu memang dibutuhkan.

Misalnya, jual beli, sewa menyewa, dan utang piutang, yang hanya memerlukan kwitansi sebagai bukti transaksi atau pembayaran.

Al-aqd asy-syakli adalah akad yang dilakukan berdasarkan aturan formalitas tertentu, bila formalitas tersebut tidak terpenuhi maka akad itu akan dianggap sebagai batal, seperti akad nikah yang mensyaratkan kehadiran dua orang saksi.

Sementara itu, al-aqd al-aini adalah akad yang mengharuskan penyerahan tunai objek akad, seperti hibah, wadiah, pinjam pakai, kredit, dan gadai.

Dilarang atau Tidaknya oleh Syarak


Dari segi dilarang atau tidaknya oleh syarak, akad dibedakan menjadi:
  • Akad masyru'.
  • Akad terlarang.
Akad masyru' adalah akad yang dianggap sah atau dibenarkan oleh syarak, seperti akad jual beli (al-bai).

Sedangkan, akad terlarang adalah akad yang dianggap tidak sah atau dilarang oleh syarak, seperti jual beli babi, minuman memabukkan, dan janin.

Sah atau Tidak


Bila ditinjau dari segi sah atau tidaknya, akad dibagi kepada dua bagian:
  1. Akad sah.
  2. Akad tidak sah.
Akad sah adalah akad yang sudah memenuhi berbagai rukun dan syaratnya, yang mencakup akad lazim, nafiz, dan mauquf.

Sedangkan, akad tidak sah adalah kebalikan dari akad sah, yaitu akad yang tidak memenuhi berbagai rukun dan syarat sahnya, yang mencakup akad fasid dan batil.

Post a Comment for "Macam-macam Perjanjian dalam Hukum Islam"