Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pandangan Hukum Islam terhadap Mekanisme Transaksi Valuta Asing

Pandangan Hukum Islam terhadap Mekanisme Transaksi Valuta Asing

Transaksi valuta asing, pada dasarnya sama dengan transaksi jual beli pada umumnya, di mana transaksi valas baru dapat dikatakan sah apabila telah memenuhi ketentuan pokoknya, seperti adanya orang yang berakad, ijab kabul atau sighat, barang yang akan ditransaksikan, dan alat tukar.

Namun yang menjadi perbedaannya terletak pada objek jual beli itu sendiri, dalam jual beli valuta asing yang menjadi objeknya yaitu uang, sementara jual beli pada umumnya yaitu barang, atau dalam kata lain transaksi valas yaitu kegiatan pertukaran uang dengan uang.

Dalam ilmu fikih, transaksi valuta asing sering diistilahkan dengan al-sharf.

Sharf diartikan sebagai transaksi jual beli mata uang, baik itu sejenis atau berbeda jenis.

Dan, terkadang diterjemahkan sebagai pertukaran emas dengan emas, perak dengan perak, perak dengan emas, dalam kapasitasnya sebagai alat tukar.

Al-Sharf, tentu saja memiliki beberapa syarat khusus, yaitu:
  • Penyerahan mata uang yang satu dengan yang lainnya harus dilakukan secara tunai, agar tidak menimbulkan riba.
  • Jika mata uang sejenis, maka harus ditukarkan pada jumlah yang sama (misalnya, Rp100.000 harus ditukar dengan uang pecahan yang juga bernilai Rp100.000).
  • Tidak adanya khiyar syarat (syarat-syarat tertentu yang dikaitkan dengan keberlangsungan akad).
  • Tidak adanya batasan waktu tertentu (al-ajal).
Apabila syarat tersebut sudah dipenuhi, maka transaksi valuta asing (al-sharf) akan dianggap benar atau diizinkan oleh hukum Islam.

Sementara itu, transaksi valuta asing dibagi kepada tiga kategori yaitu:
  1. Transaksi spot, pertukaran mata uang dengan nilai tukar yang berlaku pada saat transaksi, dan serah terima mata uang akan dilakukan pada saat itu juga (sesuai kondisi tunai yang berlaku).
  2. Forward transaction (transaksi berjangka), sering dilakukan dalam rangka lindung nilai atau menghindari risiko fluktuasi nilai tukar di masa mendatang.
  3. Swap transaction (transaksi barter), pertukaran mata uang untuk jangka waktu tertentu, dan pada saat jatuh tempo maka akan ditukarkan kembali (misalnya, dolar ditukar dengan rupiah, dan pada akhirnya pihak yang menukar dolar dengan rupiah membutuhkan lagi dolar yang telah ditukarkan).

Post a Comment for "Pandangan Hukum Islam terhadap Mekanisme Transaksi Valuta Asing"