Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian dan Dasar Hukum Sistem Kewarisan Islam (Faraid)

Pengertian dan Dasar Hukum Sistem Kewarisan Islam (Faraid)

Penting sekali untuk memahami aturan atau ketentuan terkait pembagian warisan, hal ini dikarenakan dengan memahami aturan tersebut dapat mengurangi perselisihan di antara ahli waris, atau dalam kata lain harus bersedia untuk menerima bagian atau pun haknya sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Pengertian Sistem Kewarisan Islam

Sistem kewarisan Islam sering diistilahkan sebagai faraid.

Faraid yaitu kegiatan pembagian warisan, termasuk tata cara menghitung yang berhubungan dengan pembagian harta waris, dan ilmu mengenai bagian wajib dari harta peninggalan bagi setiap pemilik hak waris.

Sementara itu, Ahmad Rafiq menyatakan bahwa faraid adalah ilmu yang mengkaji tentang orang-orang yang termasuk ke dalam ahli waris (yang berhak mendapat warisan) dan berapa bagian yang berhak mereka terima, serta ahli waris (yang tidak berhak untuk menerima harta warisan).

Fathurrahman, faraid adalah ilmu fikih yang berkaitan dengan pembagian harta pusaka, perhitungan yang mengarah pada pembagian harta pusaka, dan pengetahuan tentang bagian yang wajib dari harta pusaka untuk setiap pemilik hak.

Syamsul Rizal Hamid, warisan adalah pengalihan hak dan kewajiban atas berbagai hal, baik itu berupa harta atau pun tanggungan dari orang yang sudah meninggal dunia kepada keluarga yang ditinggalkan.

Harta waris yaitu sisa dari kekayaan orang yang meninggal dunia setelah dikurangi biaya pengurusan mayat, pelunasan utang, dan pelaksanaan wasiat.

Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI), hukum kewarisan merupakan hukum yang mengatur mengenai pemindahan hak pemilikan harta peninggalan pewaris, menentukan siapa saja yang berhak untuk menerima harta waris dan berapa jumlahnya untuk masing-masing ahli waris.

Singkatnya, sistem kewarisan Islam merupakan ketentuan terkait pembagian harta yang ditinggalkan oleh pewaris sesuai dengan aturan Islam.

Dasar Hukum Sistem Kewarisan Islam

Perkara waris Islam didasarkan pada Undang-undang No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Di samping itu, aturan atau ketentuan mengenai teknik pembagian harta waris mengacu pada QS. An-Nisa ayat (7, 11, 12, 33, dan 176).

An-Nisa ayat 11 menjelaskan mengenai pembagian warisan berdasarkan hubungan darah.

Dalam surah An-Nisa ayat 176 telah dijelaskan mengenai besaran warisan yang dapat diterima oleh masing-masing ahli waris, antara lain:

  • Anak laki-laki berhak untuk menerima warisan dua kali lipat dari anak perempuan.
  • Untuk dua anak perempuan, maka masing-masing dari mereka berhak untuk mendapatkan 2/3 dari total harta.
  • Jika pewaris tidak mempunyai anak, tapi mempunyai saudara perempuan, maka saudara perempuan tersebut berhak untuk mendapatkan 1/2 dari harta pewaris.

Post a Comment for "Pengertian dan Dasar Hukum Sistem Kewarisan Islam (Faraid)"