Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian dan Hukum Hybrid Contract (Al-'Uqud Al-Murakkabah)

Pengertian dan Hukum Hybrid Contract (Al-'Uqud Al-Murakkabah)

Tidak selamanya penggunaan satu akad dapat membantu mencapai tujuan atau kebutuhan transaksi seseorang, akan tetapi diperlukan berbagai akad untuk dilakukan secara bertahap dan berurutan sampai tujuan atau kebutuhan dari pelakunya tercapai.

Namun, hal yang harus dipahami bahwa akad tidak boleh digabungkan secara sembarangan, karena akad yang awalnya sah, kalau dilakukan secara salah, maka akan haram.

Pengertian Hybrid Contract

Hybrid contract sering disebut sebagai multiakad atau penggunaan lebih dari satu akad.

Sementara menurut ilmu fikih, multiakad merupakan terjemahan dari al-'uqud al-murakkabah yang mengandung arti akad ganda atau rangkap.

Hammad, menjelaskan bahwa al-uqud al-murakkabah yaitu sebuah kesepakatan yang dibuat oleh dua pihak untuk melakukan transaksi yang terdiri dari dua jenis akad atau lebih, dengan demikian semua akibat hukum dari setiap akad yang digunakan, dan hak serta kewajiban harus dianggap sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, seperti halnya akibat hukum dari satu akad.

Tidak semua jenis multiakad diizinkan dalam Islam, akan tetapi ada beberapa jenis hybrid contract yang dilarang, antara lain:

  • Bai'ataini fi bai'atin (larangan dua jual beli dalam satu jual beli).
  • Shafqataini fi safqatin (larangan dua kesepakatan dalam satu kesepakatan).
  • Bai' wa as-salaf (larangan jual beli yang digabungkan dengan akad pemesanan barang dalam satu transaksi).

Hukum Hybrid Contract

Sebagian besar ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah menyatakan bahwa hukum hybrid contract (multiakad) yaitu sah dan diizinkan dalam Syariah.

Ulama yang membolehkan hybrid contract mengacu pada hukum asal dari akad itu sendiri, yaitu boleh dan sah, selama tidak ada dalil yang secara tegas melarang atau mengharamkannya.

Hal ini dipertegas dengan pendapat Ibnu Taimiyah, yang menyatakan bahwa hukum asal kegiatan muamalah adalah boleh, kecuali kegiatan atau transaksi yang sudah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Singkatnya, seseorang tidak dibenarkan untuk mengharamkan apa yang dibolehkan oleh Allah dan tidak dibolehkan pula untuk menghalalkan apa yang sudah diharamkan.

Post a Comment for "Pengertian dan Hukum Hybrid Contract (Al-'Uqud Al-Murakkabah)"