Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pentingnya Kemitraan Lembaga Keuangan Syariah dan UMKM

Pentingnya Kemitraan Lembaga Keuangan Syariah dan UMKM

Dengan adanya krisis moneter 1997 mengingatkan bahwa begitu pentingnya upaya pembangunan ekonomi yang didasarkan pada sektor riil, seperti perdagangan tradisional, pertanian, koperasi, industri kecil, dan sebagainya.

Sehingga pembangunan ekonomi tidak hanya mengandalkan pihak-pihak yang memiliki modal besar saja, tapi juga dengan cara membuka lapangan kerja atau usaha baru (mis., usaha mikro, kecil, dan menengah).

Dapat dikatakan bahwa untuk saat ini, UMKM masih memiliki hambatan atau kesulitan untuk mendapatkan modal operasional mereka, khususnya di bank konvensional.

Pada dasarnya, bank konvensional merupakan bank yang memang benar-benar berorientasi pada keuntungan, jadi mereka hanya menyalurkan dananya kepada pengusa-pengusaha kaya, karena risiko gagal bayarnya hampir tidak ada.

Di samping itu, adanya kecenderungan bahwa pengusaha yang memiliki hubungan erat dengan pengambil kebijakan publik, lebih mudah untuk mendapatkan modal, dengan demikian, modal yang seharusnya ditujukan untuk UMKM sudah terhambat, karena semuanya diborong oleh pengusaha tersebut.

Tak hanya itu, terkadang modal sering dialokasikan untuk usaha non produktif dan non riil, yang bergerak di bidang spekulatif, sehingga menyebabkan kebangkrutan sektor swasta seperti yang terjadi pada 1997-1999 akibat semakin tingginya beban bunga yang harus dibayarkan.

Saat itu, banyak sekali bank yang mengalami risiko kredit macet, yang disebabkan oleh banyaknya jumlah piutang yang tidak dibayarkan akibat krisis moneter.

Hal inilah yang menjadi pijakan pemerintah dalam hal menyalurkan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Ini, tentu saja berbeda dengan yang terjadi pada lembaga keuangan syariah, seperti BMT, yang mana penyaluran pembiayaannya lebih mengarah pada sektor riil - dalam bentuk UMKM.

Ada beberapa hal yang menyebabkan UMKM lumayan tahan terhadap krisis moneter, antara lain:
  • Fokus utama UMKM yaitu menghasilkan barang dan jasa.
  • Pemanfaatan sumber daya lokal (bahan baku, peralatan, modal, atau bahkan sumber daya manusia).
Dengan adanya usaha untuk memberdayakan sektor UMKM, maka dapat memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak (penyedia dana & pengelola dana), serta aktivitas ekonomi akan lebih mendukung masyarakat, yang berakibat pada ketahanan nasional dalam menghadapi krisis keuangan.

Secara tidak langsung, dengan adanya pembiayaan di sektor riil, produksi dan distribusi ekonomi akan semakin meningkat, dan dapat memberikan manfaat yang lebih nyata bagi berbagai pihak.

Dengan demikian, sangat diperlukan akan adanya lembaga keuangan yang bersedia untuk menyalurkan dana atau ikut berkontribusi dalam hal pengembangan UMKM.

Pada titik inilah, lembaga keuangan syariah sangat diperlukan untuk memanfaatkan dana yang dikelolanya dalam hal pembiayaan UMKM.

Di samping itu, lembaga keuangan syariah juga dikenal akan sistem bagi hasilnya, dengan demikian lembaga keuangan syariah dapat membentuk kerja sama (mudharabah atau musyarakah) dengan pihak UMKM, dan berjuang secara bersama-sama untuk menyemarakkan sektor riil.

Penggunaan akad mudharabah atau musyarakah, akan mengecilkan kemungkinan pemanfaatan modal untuk bidang konsumtif dan spekulatif, serta perlahan-lahan akan memberantas kemiskinan tepat dari akarnya.

4 comments for "Pentingnya Kemitraan Lembaga Keuangan Syariah dan UMKM"

  1. Terima kasih mas, jadi ilmu lagi🙏

    ReplyDelete
  2. Luar biasa pembahasannya mas. Semoga konsisten terus posting artikel terbaru! 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah membacanya!

      Amin ya Allah

      Delete