Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perbedaan Pola Konsumsi Kapitalis dan Islam

Perbedaan Pola Konsumsi Kapitalis dan Islam

Islam selalu menekankan bahwa umatnya harus selalu memperhatikan kebutuhan dasar atau dharuriyat terlebih dahulu dalam kegiatan konsumsinya, setelah itu baru diikuti dengan kebutuhan hajiyat, dan terakhir tahsiniyat.

Setelah kebutuhan dharuriyat seseorang terpenuhi, dia tidak dapat secara langsung memenuhi kebutuhan hajiyatnya, tapi dia harus memastikan bahwa kebutuhan dharuriyat saudara atau tetangganya juga sudah terpenuhi.

Kalau kebutuhan dharuriyat saudara atau tetangganya tidak terpenuhi, maka alangkah baiknya dia memenuhinya terlebih dahulu, karena Islam tidak menyukai orang yang hanya memikirkan kepuasan diri sendiri dan mengabaikan kesusahan ataupun penderitaan yang dialami oleh orang lain.

Umat Islam yang satu dengan yang lainnya bagaikan satu tubuh, jadi tidak ada alasan untuk mengabaikan salah satu bagiannya.

Hal ini tidak hanya berlaku pada individu atau anggota masyarakat saja, tapi juga berlaku dalam sistem distribusi yang dilakukan oleh pemerintah, di mana penyaluran segala bentuk bantuan harus bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan dasar terlebih dahulu, tidak untuk meningkatkan kualitas kehidupan sebagian orang saja.

Adapun contoh kebutuhan dasar atau dharuriyat yaitu penyaluran makanan, tempat tinggal, penyediaan rumah sakit, dan sebagainya yang memang keperluannya begitu mendesak.

Berbeda dengan pola konsumsi dalam sistem ekonomi kapitalis, di mana kepuasan menjadi tujuan utama, sebelum seseorang merasakan kepuasan dan kesenangan, maka pantang untuk memikirkan kebutuhan orang lain.

Kalaupun kepuasan dan kesenangan sudah dicapai, jarang sekali ada yang memang betul-betul memperhatikan kaum miskin dan melarat, karena ini sejalan dengan sifat dasar dari manusia itu sendiri, yang lupa untuk bersyukur, sehingga sebanyak apapun harta yang sudah diperoleh masih terasa kurang dan masih merasa belum puas, lalu kapan manusia akan puas?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut sebenarnya agak sulit, tapi pada umumnya seseorang akan puas dan gemar membantu orang lain dengan apa yang dia miliki apabila ada rasa syukur di dalam hatinya, dan menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa harta yang dimilikinya merupakan titipan dari Allah, dan harus dipergunakan sesuai yang diperintahkan oleh Allah.

Sementara orang yang tidak pandai bersyukur, mereka tidak akan pernah puas, di dunia mereka tidak puas, di akhirat lebih-lebih karena yang mereka terima di akhirat hanyalah berupa siksaan akibat kesalahan dalam pemanfaatan harta yang telah diamanahkan oleh Allah.

4 comments for "Perbedaan Pola Konsumsi Kapitalis dan Islam"

  1. Benar sekali kang, kadang orang tidak memperdulikan tetangganya sudah makan atau belum yang penting dirinya kenyang, padahal namanya makhluk sosial harusnya saling berbagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju sekali, kalau semua orang saling peduli, maka masalah yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar (pencurian, perampokan, dll) juga akan berkurang.

      Delete
  2. Kenapa sudah jarang upload artikel Mas

    Padahal tulisannya bagus

    Bisa dijadikan bahan pembelajaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagi memperbanyak tulisan di blog yang satu lagi, tapi nanti akan diusahakan untuk mengupdate blog ini juga.

      Terima kasih sudah mengingatkan, kalau tidak saya akan keasyikan menulis di blog lain, wkwkwk

      Delete